Pengumpan RSS

Arsip Kategori: Serpihan

Aku Sadar Tak AKan Pernah Bisa Seperti Lukman

Satu bulan ini ada sesuatu dalam kehidupan saya. sesuatu yang tidak pernah menyangkanya akan pernah terjadi, sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding karna kebesaran Allah swt ada dihadapan saya, sesuatu yang menjadikan saya berstatus baru, ayah. indah terdengar dan baru sekarang ini saya tahu rasanya menjadi seorang ayah. seperti mimpi, tetapi hari itu tanggal 17 Januari 2011 saya benar-benar mempunyai seorang anak perempuan yang lucu dan cantik yang bernama Hafshah Aqilah Syahaznani.

Seperti baru bangun, ia menangis untuk pertama kalinya di dunia dengan tangisan yang merdu, lucu dan juga haru. ah….anakku lahir ya Rabb.pertama kali saya mendengarkan tangisannya, seperti tidak percaya bahwa saya telah menjadi seorang ayah. Ketidak percayaan itu kemudian dilarutkan dengan air mata yang menetes haru, kian haru ketika saya melihat istri saya yang tergolek lemah setelah menyelesaikan tugas pertamanya sebagai seorang ibu, melahirkan. Baru kali itu saya merasakan betapa memang perjuangan seorang ibu begitu besar. Saya baru benar-benar sadar bahwa ternyata ibu saya dahulu pun ketika melahirkan saya tidak jauh berbeda seperti istri saya. subhanallah…Betapa saya menyepelekan beliau pada hari-hari sebelum ini….

Setelah selesai dibersihkan, masih dengan rasa haru saya mengadzaninya. Adzan puh hampir-hampir tidak terdengar karena rasa haru yang menyesakkan dada, isak tangis yang menghantam tenggorokan. Ingin rasanya waktu itu saya bilang ” nak, ini bapak nak. bantu bapak supaya bisa mempertanggung jawabkan amanah ini di hadapan Allah nanti.” Ingin rasanya bahasa yang pertama terdengar adalah senyuman dan jawaban “Iya bapak, saya akan bantu bapak untuk mempertanggung jawabkan dihadapan ALlah nanti dengan cara berbakti kepada Allah, Rasul dan bapak serta ibu.” Ingin sekali rasanya saat itu juga saya mendengar kalimat itu dari anak saya.

Masih dengan suara yang serak, saya tak kuat menahan emosi yang berkecamuk. Allahu akbar….Allahu akbar… Asyhaduanlaa ilaaha illallaah …sembari sesenggukan saya letakan bayi itu di dada ibunya yang baru saja berjuang keras, gigih, tanpa mengeluh. subhanallah…

Hari itu hari kebahagiaan sekaligus hari amanah baru buat saya. Layaknya sebuah kertas, apa yang ingin saya tuliskan pada kertas baru yang masih putih, bersih tanpa noda. apakah saya akan mencatat sejarah dari anak perempuan ini dengan sejarah yang gemilang? ataukah saya justru akan menelantarkan anak yang sudah diamanahkan oleh ALlah swt. naudzubillah…

Saya teringat dengan hadits Rasulullah saw yang mengatakan bahwa:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.(HR. Bukhari).

Hadits ini membuat saya berpikir ulang bahwa apapun yang dilakukan oleh anaknya sebenarnya tidak lain adalah hasil dari upaya orang tua mendidik anaknya sendiri. Rasulullah saw sangat faham dengan apa yang dikatakan dalam haditsnya. “orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi, majusi” adalah sebuah bentuk pemberitahuan kepada kita sebagai seorang muslim bahwa membangun sebuah peradaban tidak akan pernah bisa dilakukan langsung pada ranah yang luas. Membangun peradaban tidak akan pernah bisa terjadi hanya karena serumpun dan sebudaya. tetapi membangun peradaban (baca: peradaban islam) hanya akan terjadi ketika kita faham bahwa sebagai orang tua, maka tugas kita adalah mengenalkan islam sebenar-benarnya kepada anak-anak kita, memadupadankan antara ilmu dengan jiwa yang bersih.

Indah sekali Nasihat Lukman kepada anaknya. Ia tidak menyuruh anaknya untuk mengikuti Indonesian Idol, Indonesian Got Talent, Indonesia Mencari Bakat, tidak sama sekali. Lukman juga tidak menyuruh anaknya untuk menjadi orang yang harus kaya, karena kekayaan hanyalah alat untuk memperbaiki diri, ia juga tidak pernah menyuruh anaknya untuk sekolah tinggi-tinggi karena sesungguhnya sekolah tinggi juga merupakan sesuatu dari sebuah akibat. apa itu? mari kita dengar nasihat Lukman:

  1. Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya (Tsaran) dan ia menasehatinya: “Hai anaku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (Qs Lukman (31) : 13)
  2. Hai anaku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau berada di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membawanya) sesengguhnya Allah maha halus lagi maha mengetahui.” (qs Lukman (31) : 16)
  3. Hai anaku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) me-ngerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (Allah).” (Qs Lukman : 17)
  4. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri ( Qs Lukman : 18)
  5. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara ialah suara keledai. (Qs Lukman : 19)

Nasihat yang pertama yang Lukman berikan adalah jangan pernah mempersekutukan Allah swt. kenapa nasihat ini yang pertama? tidak lain karena inilah kunci dari segala macam kebaikan. inilah dasar dari seseorang menjalani kehidupanya. tanpa keimana kepada Allah swt sesungguhnya apapun amalan yang kita lakukan menjadi seperti debu yang diterbangkan oleh angin. Ia ambigu, ia ragu kemudian hilang tanpa bekas.

Nasihat yang kedua Lukman menasihati anaknya agar memperhatikan apa yang ia perbuatnya. Hal ini tentu saja bukan karena tanpa alasan. ketika keimana kita kepada Allah swt telah kukuh, selanjutnya adalah memperhatikan apa yang kita perbuat. seseorang yang sudah beriman kepada Allah swt, ia terikat kepada aturan Allah. Aturan Allah ini yang akan menjadikan manusia menjadi orang yang penuh dengan keimanan dan keindaha. Tidak seperti aturan manusia yang bersifat lemah dan mencapekan, aturan Allah swt justru membuat hati tenang dan nyaman bagi orang yang menjalankannya. Setiap kebaikan akan menjadi kebaikan walopun sedikit. dan setiap keburukan akan mendekatkannya kepada kehancuran walopun sedikit.

Nasihat Lukman, yang selanjutnya adalah mendirikan salat dan memberi kabar kepada manusia lainnya agar melakukan perbuatan-perbuatan baik. Lukman menyuruh anaknya mendirikan salat karena dengan salat itu sesungguhnya akan menjadikan anaknya orang yang sabar dan kuat atas apa yang akan dihadapi, karena nasihat selanjutnya dari Lukman adalah memperingatkan orang lain untuk mengerjakan kebaikan.

Nasihat Lukman selanjutnya adalah jangan pernah sombong dan memalingkan diri dari orang lain. Hal ini tentu saja bukan tidak ada tujuan. Selain Allah swt saja yang berhak sombong, sesungguhnya memalingkan muka dari orang lain akan mengakibatkan perkataan apapun yang akan kita sampaikan kepada orang lain menjadi sia-sia karena tidak akan pernah mendengar. Lukman menginginkan anaknya menjadi anak yang bermanfaat bagi lingkungannya dengan cara jangan pernah memalingkan dari orang lain.

dan nasihat yang terakhir adalah jangan pernah menjadi orang yang berlebihan dalam hidup karena sesungguhnya kehidupan itu tidak bisa sendiri. ia harus bersosialisasi, ia harus menyampaikan kebenaran. ada korelasi antara tidak sombong dengan tidak berlebihan, karena kesombongan biasanya akan menimbulkan berlebihan.

Bbegitulah Lukman menasihati anaknya. Betapa ayah seperti Lukman inilah sesungguhnya yang telah siap menjadi ayah. Ayah idaman bagi anaknya. Lalu saya mengaca kepada diri saya pribadi, betapa jauh saya dengan Lukman…jauh sekali….tapi walopun begitu ada secercah keinginan yang bulat untuk menjadikan anak saya sebagai seorang yang bermanfaat bagi orang lain.

sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi seperti Lukman yang baik, saya hanya bisa berharap ke Allah swt agar dimampukan untuk merawat anak sehingga menjadi anak yang berguna seraya berkata kepada anak saya:

“Nak, bantu bapak menjadikan kamu orang yang penuh dengan ruh keislaman.” amin……^^

Berimajinasi

“Rintik-rintik hujan ini tak akan mampu mengalahkan impianku” mungkin itulah yang dikatakan oleh mang becak yang baru saja melintas dihadapanku. Lalu saya menerawang masuk ke celah labirin otak yang semrawut. bertemu dengan anaknya, istri yang tengah harap-harap cemas karena suaminya yang tengah mencari nafkah untuk membiayai kehidupan sehari-harinya yang tak jua kunjung tiba, terlebih hari ini hujan besar. Seketika itu juga ucapan syukur menghiasi hati karena ternyata saya masih diberikan kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan keadaan mang becak itu. aliran-aliran di batok kepala saya mengalir begitu saja. ini sepertinya menjadi kebiasaan baru. kebiasaan masuk dan berimajinasi seandainya saya menjadi orang yang saya lihat, apa yang akan saya lakukan. Berimajinasi dan memerankan orang tersebut.

Mungkin terlalu na’if, tapi bagi saya ternyata kebiasaan baru itu cukup mengasyikan. Ketika saya berada di Mall, yang terpikir pertama kali adalah apa sebenarnya yang ada di kepala mereka. Tujuan apa sebenarnya yang ada dibenak mereka. Berimaji seperti ini telak telah menjadikan saya orang yang pada akhirnya belajar untuk menjadi bijaksana, berimajinasi seperti itu telah memanusiakan hati saya. Dengan berimajinasi saya belajar untuk bersyukur.alhamdulillah…

Entah, ini salah atau benar, tapi yang jelas hari ini saya terduduk diparkir SMA4 Cirebon. hujanlah yang membuat saya terduduk dan mulai berimajinasi. pakaian yang lusuh, celana jeans tanggung dengan bekas potongan diujungnya, dan topi yang menghias di kepala untuk menahan panas Cirebon yang kadang menyengat, namun kini topi itu berperan sebagai penahan air hujan seperti sekarang ini. setiap hentakkan kakinya pada pedal yang terlihat berat dan keras yang menimbulkan otot-otot yang kuat.

Ia datang dengan hujan yang membuatnya basah kuyup membawa seorang guru yang akan masuk ke sekolah. Kaki-kaki itu seperti berkata di imajinasiku “Alhamdulillah, nak, hari ini bapak bawa uang untuk makan kita. kita bisa makan lebih enak (setidaknya untuk hari ini)” kelebatan-kelabatan kalimat dan imajinasi itulah yang datang ke batok kepala. Aku sedang memarankan mang becak itu.

Kadang saya berpikir seperti dalang yang sedang memainkan lakon. Tapi bagiku ini harus ditangkap, ini inspirasi untuk memanusiakan saya, lalu berusaha bersyukur dan mengucap alhamdulillah….ternyata keadaanku masih lebih baik, nuraniku masih hidup walaupun harus tertatih-tatih…alhamdulillah..

 

dalam Basah Kuyup

Gambar:  ww.devieriana.com

Berlomba Menjadi Berhala

Ada sebuah tulisan dari seorang teman yang sangat membuat hati saya terdiam lalu merenung. betapa tidak, ternyata acara-acara semacam Indonesia mencari bakat, Indonesia’s got talent dan acara sejenisnya ternyata secara tidak sadar telah menjadikan kita seseorang yang mengagung-agungkan manusia. innlaillah….

ini dia artikelnya….

“Aneh! Menyaksikan begitu banyak kontes idola-idolaan hari-hari ini. Semua berlomba untuk menjadi idola yang digemari dipuja dan dikenal dimana-mana. Fenomena ganjil yang mengemuka di depan kita semua. Mengapa begitu haus manusia menjadi idola??Bukankah sama artinya mereka sedang berlomba-lomba menjadi atau menandingi Tuhan? “Lho Kok sampe kesitu mas?! Serem amat!”Jangan esmosi gitu dong.

Sini deh, sampeyan dengerin baik-baik penjelasan saya. Mari kita dudukkan persoalannya. Idola adalah kata serapan Bahasa Inggris; idol. Lihatlah webster dictionary menjelaskan arti kata ini… An image of a divinity; a representation or symbol of a deity or any other being or thing, made or used as an object of worship; a similitude of a false god.[1913 Webster]Jadi segala sesuatu yang dijadikan objek sesembahan yang mencoba menyamai Tuhan disebut idol. Maka terjemahan paling pas dari kata idol ini dalam Bahasa Indonesia adalah berhala.

Dulu di masa jahiliah sebelum diutusnya para nabi, idola itu berwujud  replika bodi orang-orang alim terdahulu. Hingga ke zaman rasul terakhir  Latta, Uzza dan Manat dan Hubal menjadi idola. Yang ke semuanya menjadi tandingan Allah SWT, disembah dan dimintai pertolongan kala mereka gundah. Maka menjadi tugas berat para nabi dan rasul serta yang mengikuti jejak mereka untuk mengembalikan penyembahan itu pada yang sepatutnya. Serta mengarahkan seluruh laku dan tindakan sesuai keinginan Sang Pencipta yang hanya Dialah yang pantas dijadikan sembahan.

Sering digambarkan di buku-buku sejarah, para penganut totemisme bersimpuh di hadapan berhala, sambil meminta dan memohon kepadanya. Maka coba kita perhatikan baik-baik sikap dan atitude para pemuja idola di jaman modern, idola yang terdiri dari para artis. Mereka menjerit-jerit dan memohon serta menyanyi dan menangis bersama sang artis. Sehingga jika ada pesan-pesan amoral yang dibawakan oleh sang idola mereka akan langsung mengamininya. Hari ini idola dan mengidolakan menjadi gaya hidup yang diidap sebagian besar manusia. Sehingga tidaklah mengherankan, ketika ada artis yang berzina dan diketahui seluruh khalayak, penggemarnya akan bergeming tak peduli seolah matanya tertutup dari menganggap itu sebuah kesalahan.

Mereka malah memberikan dukungan sepenuh jiwa dan raga.  Mereka juga akan sengit menyerang orang-orang yang memprotes atas dasar moral atau keimanan. Tabiat dari pemujaan terhadap berhala adalah tabiat yang takkan dipahami kecuali oleh penganut yang sejalan. Dan puncak dari pengabdian pada sesembahan adalah menyerahkan jiwa dan raga pada sang berhala.

Lihatlah dalam At Taubah ayat 31 :اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أرباب من دون الله والمسيح ابن مريم…”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah dan juga menjadikan Al masih bin Maryam sebagai sebagai rabb”proteslah Adi bin Hatim yang dulunya nasrani kepada Rasulullah. Dia berkata, “Ya Rasulullah mereka tidak menyembahnya”"Memang benar. Tetapi bukankah mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram untuk para pengikutnya, kemudian para pengikutnya menguikuti mereka?! Itulah bentuk penyembahan mereka kepada orang alim mereka..

Sedangkan orang yang alim sekalipun bisa saja menjelma jadi berhala. Manakala dia tidak berpijak pada pemahaman yang benar tentang ibadah, atau membuat-buat sendiri ibadah dan diikuti secara membabi buta oleh para pengikutnya. Apatah lagi para idola busuk akhir zaman yang menari-nari dan bergantian mempermainkan hati manusia yang lemah. Wah mas, berarti saya nampaknya mesti syahadat ulang?”Ya,sampeyan kan tiap sholat udah baca syahadat. Tinggal realisasinya aja. Tidak ada ilah (sesuatu yang ditaati) selain Allah. Pelajari semua perintahNya dan laksanakan. Gitu aja koq repot..

by Fajri Hidayat

Berbuka puasa dengan Bidadari

Hisyam bin Yahya al-Kinaniy berkata, “Kami berperang melawan bangsa Romawi pada tahun 38 H yang dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Dalam pertempuran itu ada di antara kami seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Harits yang terkenal banyak beribadah, berpuasa di siang hari, dan shalat di malam hari.

Saya melihat orang itu adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik siang maupun malam hari. Jika dia tidak sedang melakukan shalat atau ketika kami berjalan-jalan bersama, saya lihat dia tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam ketika kami melakukan pergantian jaga (saat mengepung benteng Romawi), sungguh saat itu kami dibuat bingung olehnya. Saat itu saya katakan kepadanya, ‘Tidurlah sebentar karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada musuh. Jika terjadi sesuatu agar nantinya kamu dalam keadaan siaga.’

Lalu dia tidur di sebelah tenda sedangkan saya berdiri di tempatku berjaga. Di saat itu saya mendengar Said berbicara dan tertawa, lalu mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu kemudian mengembalikan tangannya sambil tertawa. Kemudian ia berkata, ‘Semalam.’ Setelah berkata seperti itu tiba-tiba ia melompat dari tidurnya dan terbangun  dan bergegaslah dia bertahlil, bertakbir, dan bertahmid.

Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Bagus sekali, wahai Abul Walid (panggilan Sa’id), sungguh saya telah melihat keanehan pada malam ini. Ceritakanlah apa yang kau lihat dalam tidurmu.’

Dia berkata, ‘Aku melihat ada dua orang yang belum pernah aku lihat kesempurnaan sebelumnya pada selain diri mereka berdua. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Sa’id, berbahagialah, sesungguhnya Allah swt. telah mengampuni dosa-dosamu, memberkati usahamu, menerima amalmu, dan mengabulkan doamu. Pergilah bersama kami agar kami menunjukkan kepadamu kenikmatan-kenikmatan apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.’

Tak henti-hentinya Sa’id menceritakan apa-apa yang dilihatnya, mulai dari istana-istana, para bidadari, hingga tempat tidur yang di atasnya ada seorang bidadari yang tubuhnya bagaikan mutiara yang tersimpan di dalamnya. Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah lama kami menunggu kehadiranmu.” Lalu aku berkata kepadanya, “Di mana aku?” Dia menjawab, “Di surga Ma’wa.” Aku bertanya lagi, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah istrimu untuk selamanya.”

Sa’id melanjutkan ceritanya. “Kemudian aku ulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Akan tetapi dia menolak dengan lembut sambil berkata, ‘Untuk saat ini jangan dulu, karena engkau akan kembali ke dunia.’ Aku berkata kepadanya, “Aku tidak mau kembali.” Lalu dia berkata, “Hal itu adalah keharusan, kamu akan tinggal di sana selama tiga hari, lalu kamu akan berbuka puasa bersama kami pada malam ketiga, insya Allah.”

Lalu aku berkata, “Semalam, semalam.” Dia menjawab, “Hal itu adalah sebuah kepastian.” Kemudian aku bangkit dari hadapannya, dan aku melompat karena dia berdiri, dan saya terbangun.

Hisyam berkata, “Bersyukurlah kepada Allah, wahai saudaraku, karena Dia telah memperlihatkan pahala dari amalmu.” Lalu dia berkata, “Apakah ada orang lain yang bermimpi seperti mimpiku itu?” Saya menjawab, “Tidak ada.” Dia berakta, “Dengan nama Allah, aku meminta kepadamu untuk merahasiakan hal ini selama aku masih hidup.” Saya katakan kepadanya, “Baiklah.”

Lalu Sa’id keluar di siang hari untuk berperang sambil berpuasa, dan di malam hari ia melakukan shalat malam sambil menangis. Sampai tiba saatnya, dan sampailah malam ketiga. Dia masih saja berperang melawan musuh, dia membabat musuh-musuhnya tanpa sekalipun terluka. Sedangkan saya mengawasinya dari kejauhan karena saya tidak mampu mendekatinya. Sampai pada saat matahari menjelang terbenam, seorang lelaki melemparkan panahnya dari atas benteng dan tepat mengenai tenggorokannya. Kemudian dia jatuh tersungkur, lalu dengan segera aku mendekati dia dan berkata kepadanya, “Selamat atas buka malammu, seandainya aku bisa bersamamu, seandainya….”

Lalu ia menggigit bibir bawahnya sambil memberi isyarat kepadaku dengan tersenyum. Seolah-olah dia berharap ‘Rahasiakanlah ceritaku itu hingga aku meninggal’. Kemudian dari bibirnya keluar kata-kata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kami.” Maka demi Allah, dia tidak berucap kata-kata selain itu sampai dia meninggal.

Kemudian saya berteriak dengan suaraku yang paling keras, “Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian semua melakukan amalan untuk hal seperti ini,” dan aku ceritakan tentang kejadian tersebut. Dan orang-orang membicarakan tentang kisah itu dan mereka satu sama lain saling memberikan teguran dan nasihat. Lalu pada pagi harinya mereka bergegas menuju benteng dengan niat yang tulus dan dengan hati yang penuh kerinduan kepada Allah swt. Dan sebelum berlalunya waktu Dhuha benteng sudah bisa dikuasai berkat seorang lelaki shaleh itu, yaitu Sa’id bin Harits. Allahu a’lam

sumber: dakwatuna.com

Dan Nyamuk pun terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal

artikel ini saya ambil dari http://www.mail-archive.com/wongbanten@yahoogroups.com/msg09011.html

ketika saya sedang menulis dan mencari data tentang kekuasaan Allah swt untuk buku yang sedang ditulis, tiba-tiba nyasar ke sebuah group dan saya menemukan tulisan yang inspiratif sekali. semoga bermanfaat. dan untuk yang menulisnya semoga dapet ilmu dan mengalir ya pahalanya ^_^

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan:

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu33. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah34, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

(Al Baqoroh:26)

Nyamuk, seekor makhluk yang lemah tapi menakjubkan. Ketika membuat perumpamaan seekor nyamuk, Alloh SWT hendak menjelaskan kepada manusia bahwa makhluk yang kecil ukurannya ini, agung dalam penciptaannya yang mengagungkan penciptanya. new nyamuk Berikut ini adalah sebagian fakta tentang nyamuk :

1. Dia adalah seekor betina.

2. Memiliki seratus mata di kepalanya.

3. Memiliki 48 gigi di mulutnya.

4. Mempunyai 3 jantung diperutnya lengkap dengan bagian-bagiannya.

5. Memiliki 6 pisau di belalainya dan masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda.

6. Memiliki 3 sayap pada setiap sisinya.

7. Dia dilengkapi dengan alat pendeteksi panas yang bekerja seperti infra merah yang berfungsi memantulkan warna kulit manusia pada kegelapan menjadi warna ungu hingga terlihat olehnya.

8. Dilengkapi dengan alat pembius yang membantu dari bahaya jarumnya, agar manusia tidak merasakannya. Adapun yang kita rasa seperti gigitan adalah hasil dari hisapan darah kita.

9. Dilengkapi dengan alat penyeleksi darah, hingga dia tidak menyedot sembarang darah.

10. Dilengkapi alat untuk mengalirkan darah hingga darah bisa mengalir lewat belalainya yang sangat lembut dan kecil.

11. Dan yang lebih mengherankan lagi dari semua ini adalah bahwa ilmu pengetahuan modern telah mengungkap fakta bahwa di atas punggung nyamuk hidup serangga yang sangat kecil, yang tidak nampak kecuali dengan alat pembesar (mikroskop). Ini adalah salah satu bukti kebenaran dari firman Alloh SWT,

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu…”subhanallah…demi Allah, tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan langit dan bumi beserta isinya. jadi, hanya orang-orang tertutup hatinya saja yang tidak mampu merasakan kemaha besaran Allah swt, hanya orang yang tidak berpikir yang tidak merasakan adanya Allah swt.

oleh karena itu, tidak ada kata lain bahwa semua adalah patut kita syukuri. syukuri karena kita masih diberikan pilihan untuk hidup dan mengenal Allah swt. syukuri bahwa kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri kita menuju manusia yang paripurna, menuju manusia yang diidamkan oleh para penghuni surga.

semoga ramadhan kali ini adalah ramadhan yang lebih baik dari ramadhan sebelumnya. amin…

Pelajaran di Pagi Hari

pagi semua…^_^..

sehat? saya yakin untuk yang membaca blog hari ini semuanya dalam keadaan sehat walafiat. aminnnnn…minnn…min…..

prente-prente. pagi ini ada sebuah kejadian yang menarik yang bisa dijadikan semangat buat kita untuk kembali menyelami makna kehidupan kita sebenarnya. kenapa? karena sejatinya kehidupan kita adalah kehidupan yang didalamnya harus dimaknai sebagai sebuah amal-amal panjang. okay, kita mulai saja yah…

Dari beberapa hari yang lalu motor tuaku mengidap sebuah penyakit bernama rem yang blong. di injak remnya..eh motor terus saja jalan. okay, dari pada ngebahayain diri sendiri, lebih baik ngeluarin dana sedikit.

datanglah ke tempat bengkel langganan. dan kutemukan si akang yang bernama kang deni. dia yang suka otak atik motorku. “wah, kunaon sampe kieu?” ke nya ku saya di bereskeun” (Wah kenapa sampe begini? okay saya betulkan)..

ditengah membetulkan rem si akang nanya ke saya yang sedang mengamati pekerjaan kang deni. “gimana istri dah ngisi?” “alhamdulillah sudah kang” jawab saya sambil terus memerhatikan bagaimana caranya dia betulkan rem. percakapanpun berlanjut ngalor-ngidul..sampai pada dia cerita tentang keluarganya.

“Keluarga saya mah ironis kang.” tiba-tiba ia bicara. “kenapa gitu kang?” tanya saya keheranan. keluarga saya yang saya bina selama 13 tahun ternyata kandas tahun kemarin kang.” istri saya selingkuh dengan teman sekerjanya.” ia bercerita dengan suara yang agak bergetar seperti menahan. sebagai seorang yang baru nikah, saya merasa wah…cerita yang berat niy…gimana ngomentarinnya ya..walhasil aku biarkan saja dia bercerita sambil terus bertanya lebih dalam tentang dirinya dengan harapan ia melepaskan kepenatannya. subhanallah…

yang saya rasakan adalah betapa berharganya sebuah keluarga yang kita bangun. keularga bagi si akang tadi adalah tempat bersandar ketika ia lelah. ia rela bongkar pasag motor tua dan bermandi peluh untuk istrinyadan juga anaknya yang sudah masuk smp.

untungnya semangat ia timbul kembali setelah melihat anak satu-satunya. “saya harus bangkit kang” katanya. “waktu awal-awal perceraian, saya sering berpikir buat apa lagi saya kerja” uhh…saya coba mendalami perasaannya seberapa sakitkah dia ketika menghadapi cobaan semacam itu. sungguh mengerikan rasanya jika hal tersebut terjadi pada kehidupan kita. semoga saja yang sudah menikah, pasangan anda tidak menzalimi anda begitupun sebaliknya. karena sejatinya hidup ini akan lebih indah ketika kita faham tentang pasangan kita.

Kerja dulu Baru Shalat?

salat ashar hari ini benar-benar mendapatkan ilmu yang berharga dari seorang jamaah yang tengah berbincang dengan jamaah lainnya.

pekerjaan yang sedikit menguras tenaga membuat diri memaklumi bahwa telat sedikit ke masjid tidak masalah. namun, sesampainya di masji ternyata salat berjamaah sudah selesai. akhirnya mau tidak mau harus salat sendiri di masjid.

sementara saya sedang menjalankan salat ashar, jamaah telah selesai  wirid. waktu luang setelah wirid mereka manfaatkan untuk berbincang masalah agama. kalimat demi kalimat mengalir dari bapak2 yang sedang asyik bercakap. sampai kepada kalimat:

“surga itu terlalu mahal jika dibandingkan dengan kehidupan dunia yang bersifat fana. tapi anehnya manusia sering kali manusia lebih mengutamakan kerja. misalnya bos berkata kepada karyawannya untuk datang jam 7 tepat. dan karyawanpun menaatinya. tetapi ketika ia mendengar adzan, ia masih saja duduk di kursi yang empuk dan mewajarkan alasannya, bahkan sampai kepada tahap tidak melaksanakan salat. padahal kita tahu bahwa bos tetinggi kita adalah Allah swt.”

“wow”, dinding hati saya tertampar dan….”sakit”. betapa kelalaian yang saya rasakan dan menjadi sebuah pemakluman itu teranyata tidak berlaku dihadapan Allah swt. subhanallah…mendapatkan serpihan ilmu yang mungkin terlihat sepele. tetapi ketika ilmu itu datang pada saat momen yang tepat, hal ini menjadi sebuah “pukulan telak” dan menjadi sebuah peringatan keras. subhanallah….terima kasih kepada Allah swt yang mengingatkanku hari ini..subhanallah…^_^..semoga bermanfaat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.