Pengumpan RSS

Arsip Kategori: Sastra

Memasuki Ruh Penulis-Penulis Besar

Proses menulis adalah sebuah proses yang sangat menyenangkan. Kenapa? Karena akan selalu ada pikiran-pikiran baru ketika kita menuangkan ide-ide dalam tulisan. Namun, hal tersebut akan terasa sangat sulit bagi penulis pemula. Menulis merasa terasa sangat sulit.

Proses membangun mental menjadi penulis adalah proses awal yang harus anda lakukan ketika anda menginginkan menjadi seornag penulis. Ketika anda memutuskan penulis maka katakanlah kepada diri bahwa anda adalah seornag penulis. Bayangkanlah dalam pikiran anda bahwa anda adalah seorang penulis. Bayangkanlah bahwa anda adalah penulis besar.

Jika hal tersebut masih belum menjadi kekuatan bagi anda untuk menulis, maka ada satu trik bagi anda agar anda yakin bahwa anda adalah seorang penulis yang layak diperhitungkan. Trik ini sering saya lakukan ketika saya diawal belajar menulis. Dalam perjalanan menulis saya saya mempunyai penulis idola. Penulis yang saya idolakan inilah yang saya sering baca bukunya, saya renungi tulisan-tulisannya, lalu saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lalu proses mengidolakan penulis tersebut berlanjut kepada saya ingin mencontek gaya penulisannya. Setelah itu hal yang saya lakukan adalah masuk ke dalam pikiran penulis tersebut.

Proses masuk ke dalam akal pikiran si penulis tersebut adalah proses yang sangat menyenangkan sekaligus sangat emosional. Saya membayangkan bagaimana seandainya saya menjadi dia. Tulisan-tulisannya dibaca dan menginspirasi banyak orang. Berpengaruh terhadap kehidupan orang kepada sesuatu yang lebih baik.

Trik ini berhasil untuk saya. Jika anda ingin mencoba, maka cobalah anda memasuki penulis-penulis paforit anda dan masukilah ke dunianya. Rasakan ruh penulis tersebut dan rasakan pula ketika mereka menulis. Bayangkan anda berada dalam kamar penulis tersebut, bebas seperti apa. Dari situ anda akan merasakan bahwa penulis besar mempunyai kekuatan sebelum mereka menulis, yaitu mereka sadar bahwa mereka adalah seorang penulis, maka tentu saja harus menulis dan memberikan sesuatu lewat tulisannya.

ada kebingungan yang mesti diurai…

Ada sepi yang harus segera disinari dengan matahari hangat…

ada sedih yang harus dibenahi dengan senyuman…

ada gelap yang harus segera di pendar…

 

kadang bertanya kemana lagi aku harus mengurai ranah-ranah gelap?

ingin rasanya terbang dan melepas dan meregang tali-tali pengekang tubuh…

aku ingin lari kemudian berteriak…

 

Aku butuh kau yang lagi-lagi menjadi mata air ketenangan…

aku butuh kau yang lagi-lagi menjadi pembaharu ketika semangat kendur….

 

aku ingin mengendurkan urat-urat syaraf yang sedang menegang….

ah….letih rasanya….

Undangan seleksi Mentoring kepenulisan

Dear calon peserta Indscript Creative Writing Club 2 (ICWC 2),

Bersama surat ini kami menyampaikan bahwa Indscript Creative akan menyelenggarakan seleksi calon peserta Indscript Creative Writing Club 2 (ICWC 2) pada :

Hari : Sabtu, 21 Agustus 2010

Jam : 10.00 WIB s/d selesai

Tempat : Kantor Indscript CreativeJl. PLN Dalam I No.1/203D,Moh Toha,    Bandung.Telp. 022-5229415

Persyaratan peserta untuk mengikuti ICWC 2:

1. Bersedia berkomitmen selama 3 bulan mengikuti pelatihan setiap hari Sabtu

2. Mempunyai laptopPada seleksi ini kami akan memilih 10 peserta terbaik untuk kemudian mendapat pendidikan gratis selama 3 bulan.

Kelebihan peserta yang terjaring setelah melalui pendidikan selama 3 bulan adalah sebagai berikut:

- Peserta akan diprioritaskan untuk mendapat job penulisan, atau- Peserta langsung kami kontrak sebagai penulis, atau

- Peserta akan menjadi bagian dalam pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan oleh Indscript Creative.

Demi kelancaran seleksi calon peserta ICWC 2, kami mohon Anda untuk membalas undangan ini, apakah Anda akan menghadirinya atau tidak. Konfirmasi paling lambat tanggal 13 Agustus 2010. Untuk peserta yang tidak melakukan konfirmasi kami anggap tidak hadir.

Hormat kami,9 Agustus 2010Mengetahui

Ketua Program

Tendi Krishna Murti 

Senja Di Wisma Sayo

Sore itu udara sedikit panas di Wisma Sayo. Merebak keheningan di sekitarnya. rerumputan yang tumbuh seperti lambaian-lambaian manusia yang tak perduli akan seonggok daging manusia di dalamnya. Cat yang buram kecoklatan semakin menambah kusamnya wisma tersebut. Tampaklah bahwa wisma tersebut memang tak terawat layaknya sebuah tempat tinggal yang dihuni oleh manusia.

Sore itu menjadi saksi bahwa memang manusia kadang telah lupa akan sebuah jasa manusia tentang arti sebuah hidup dan memaknai apa hidup itu sendiri.

Di kamar wisma tersebut teronggok sebuah tubuh yang sudah layu seperti sebuah fajar yang sudah hampir meredup di ujung hari siang. Kaus putih dan piyama yang melekat ditubuhnya semakin menampakan badan kurus yang tak terawat. Walaupun ada suster yang menjaganya, tak tampak di sinar matanya sinar kehidupan yang amat sangat seperti lima tahun yang lalu ketika dia berkoar di mikrofon. Di radio atau di podium yang membuat dirinya merasa hidup. Merasa bahwa inilah cintaku. Bukan pada istriku-istriku tapi negaraku. Tubuh yang pada lima tahun terakhir adalah tubuh yang terhormat, tubuh yang mampu menyihir seluruh pendengarnya dengan ketampanannya dan kepiawayannya dalam berargumen. Bibir yang sangat eksotis yang mampu menyihir para pendengar dengan teriakannya yang khas, yang bikin kelabu sekelabu kelabunya warna hati, yang bikin merah semerah-merahnya warna hati. Bibir yang menjadi penyambung lidah yang dicintainya.

Hari ini, di wisma Sayo yang sepi, dan benar-benar sepi tak ada nyawa yang mau bersinggah dan hanya sendiri, dia terbaring kaku, seolah tubuh itu tak lagi mampu ia atur untuk bangun, seolah tubuh itu tak lagi mampu ia suruh hanya untuk sekedar jalan ke kamar mandi.

Di tempat pengasingan ini nyawa ini benar-benar terasing, bukan hanya terasing dari keluarga yang sangat dicintainya, Rachma, Guntur, Hartini sang istri tercinta, tapi tubuh ini terasing dari kehidupan benar-benar kehidupan. Sejatinya manusia ingin bertegur sapa dengan manusia. Bukan hanya dengan anjing yang selalu mendampinginya di dekat tepi pembaringannya. Tentunya tubuh ini ingin mendapatkan rasa kehangatan bertegur sapa dengan kawan, dengan sanak saudara, dengan orang-orang yang paling dicintainya sehingga harus mempertaruhkan sebagian hidupnya untuk memperjuangkan mereka.

Kerinduan inilah yang akhirnya sedikit demi sedikit mengikis tubuh yang telah renta semakin bertambah renta, lesu, kehilangan gairah dan sedikit demi sedikit pula tubuh ini telah tak berfungsi, tangan ini tak lagi mampu menulis, kaki ini rasanya sulit berjalan, bahkan hanya untuk pergi ke kamar mandi.

Aku benar-benar terpasung di wisma ini. Terpasung dari kehidupan luar. Terpasung dari hingar bingar dunia akibat kejamnya sang adikuasa. Selama lima tahun, aku hanya bertemu dengan beberapa orang manusia saja, Rachma, Hartini istriku, dan ajudan-ajudan bengis yang selalu menanyaiku “apakah kamu terlibat kejadian tanggal 1 Oktober pagi?”. Aku sudah bilang bahwa aku tak tahu apa-apa mengenai kejadian itu. Aku tak tahu kenapa Gestok itu terjadi? Tapi sampai hari ini, setiap pagi, sore, malam seperti tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan selain itu. Bah, kalau aku tahu kenapa aku harus diam. Akupun mengecam kejadian tersebut. Aku bosan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Kalau aku tahu, aku tak harus mengorbankan keluargaku, Rachma, Dewi sang istriku dari negeri matahari, Hartini istriku yang sangat sabar.

Aku tak mungkin menghianati rakyatku. Karena bagiku mereka adalah nyawaku. Aku pernah bilang kepadamu “jika kalian ingin membunuhku maka jauhkanlah aku dari rakyatku” dan hari ini kau buktikan itu. Sudah lima tahun aku terpasung dalam rumah tanpa mendengar indahnya suara rakyatku yang mengatakan aku cinta padamu bapak. Bahkan ketika aku membeli rambutan dijalan, kau memarahi dokter yang aku ajak keluar karena tukang rambutan itu bilang “hoi…ada bung Karno” kau lalu memperketat penjagaan di wisma lusuh ini. Hanya untuk seikat rambutan yang aku ingin beli di jalan.

Betulah, sedikit demi sedikit gairah hidupku mulai berkurang. Sakit ginjal, rematik, penyumbatan pembuluh darah di jantung, semuanya telah menggerogoti seluruh sendi nafas kehidupanku. Bukan karena aku penyakitan, tapi Karena kau telah sukses memisahkan aku dengan rakyatku, sehingga kau telah sukses membunuhku secara perlahan. Susah rasanya hidup tanpa rakyat yang sangat aku cintai. Bahkan hari ini pun rakyat yang aku cintai membenciku. Lalu alasan apalagi yang harus aku kemukakan kepada takdir bahwa aku harus terus hidup? Akhirnya keluargakulah yang tetap memberikan secuil asa untuk hidup.

Tapi, bagiku sama saja, karena kau telah membiarkan aku diam di wisma ini tanpa ada teman, tanpa ada riuh manusia. Aku sendiri. Benar-benar sendiri.

Penyakitku semakin hari semakin parah saja. Batukku berdarah, begitu juga ketika buang air besar. Tapi kau malah memberikan aku dokter hewan. Aku sedikit tertawa ternyata aku adalah hewan dihadapanmu.

Tak tahan rasanya jika aku harus diasingkan oleh rakyatku sendiri, oleh bangsaku sendiri. Lebih baik aku diasingkan dan di hukum oleh Belanda daripada oleh rakyaktu sendiri. Cape hati ini menahan kerinduan yang selama lima tahun ini dibatasi oleh status tahanan rumah. Aku rindu podium, aku rindu mikrofon, aku rindu ingin mencurahkan isi hatiku kepada seluruh rakyat Indonesia, aku rindu meneriakan anti neo kolonialisme, aku rindu gemuruh rakyaktu yang mendukungku, aku rindu perhatian rakyatku, aku rindu…namun, kerinduan ini tetap saja tak terkabulkan dan terus tepasung dalam hati yang terdalam. Kemana rakyaktu? Kemana kekasihku? Aku rindu ingin bertegur sapa dengan mereka. Karena kerinduan inilah aku sampai seperti ini.

Di wisma kusam penuh dengan tai cikcak ini aku terbaring hampir tak ada yang mengunjungiku. Perawat yang sepertinya tak berniat merawatku. Meminta bantuan kepada pemerintah? Ah…biarlah… tak sudilah aku meminta kepadanya, karena prinsipku sudah jelas tak pernah ingin meminta belas kasihan orang lain.

“Tok…tok…tok…” tiba-tiba suara pintu wisma ini terdengar. Bunyi yang sangat indah bagiku. Bunyi yang langsung merasuk kepada sanubari akan ada seorang teman atau saudara yang akan mengajakku mengobrol, bercanda atau sedikit melepas penat dengan bermain kartu remi. Tapi sekali lagi aku tak mampu bangun dari tempat tidurku. Tubuh ini sudah tak mampu diperintah oleh tuannya. Akhirnya suster yang menjagaku membukakan pintu.

Seorang laki-laki masuk kamarku. Aku melihatnya karena mata inipun sudah lamur oleh waktu. Mata ini dimakan waktu karena tak kugunakan untuk melihat apa-apa yang aku cintai.

“Hatta kau disini?” pandanganku susah untuk menangkap mukanya.

Yang disapa tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kesedihan yang mencabik hati. Hatta berusaha menjawabku dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur “iya No, ini aku Hatta, bagaimana keadaanmu” orang yang ada di dekatku mencoba untuk biasa saja. Hatta menyapaku dengan sebutan yang digunakan dimasa lalu. Seketika itu juga pikiranku kembali kepada hari Jum’at jam 10.00 WIB tanggal 17 Agustus. Aku kembali meresapi hari yang bagiku merupakan hari yang tak akan pernah aku lupakan, bahkan bagi rakyatku sendiri. Jika rakyatku menyelami hatiku pada waktu itu, niscaya mereka akan menemukan sinar harapan yang ada di dadaku tentang Indonesia dimasa yang akan datang, tentang impianku menjadikan Indonesia gemah ripah loh jinawi aman tentrem kerta raharja. Aku meresapi detik-detik itu sekali lagi ketika bersama dengan Hatta. Indah…seindah sang fajar yang menembus dedaunan sebuah pohon yang rindang dan diramaikan oleh cicit burung disebuah bukit. Sinarnya yang kekuning-kuningan akan menghangatkan seluruh nyawa. Damai sekali rasanya waktu itu. Sedamai aku mendengarkan lagu keroncong kesukaanku, bahkan lebih dari itu.

Tak ada yang sangat bahagia melebihi kebahagaiaanku waktu itu. Karena memang sebagian cita-citaku adalah memerdekakan bangsa ini. Aku ingin menikmatinya sekali lagi bersama Hatta, walaupun hanya satu detik.

Proklamasi

Kami, bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain. Diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno-Hatta.

Aku ingin merasakan lagi detik-detik yang membanggakan itu. Damai…indah…tak terasa air mataku mengalir deras mengalir menuju pipiku. Bukan karena hanya memori indah itu, tapi juga kini aku bertemu dengan sobat lamaku, setelah sekian lama ada salah faham dianatara aku dengannya.

Kini ia hadir sebagai seorang sahabat, sebagai teman lama, dan ia memanggilku dengan perkataan No, dia memanggil ujung namaku. panggilan yang terdengar akrab sekali bagiku setelah sekian lama aku terpasung kesepian karena statusku sebagai tahanan. No…kata-kata yang sangat indah, terdengar indah yang meluncur dari sahabat lamaku.

“Tolong ambilkan kacamataku ta, supaya aku bisa melihatmu lebih jelas” selorohku kepadanya. Tiba-tiba tangan hangat Hatta memegang tanganku, seolah-olah ia ingin kembali memberikan semangat hidup kepadaku, seolah-olah ia ingin aku kembali mengingat dimana aku dengannya berjuang bersama dan di juluki Dwi tunggal. Dan kehangatan itu terus merasuk kedalam hatiku. Mataku kembali menghangat dan mengalirkan sungai kecil di pipiku yang semakin membengkak akibat dari racun penyakitku yang telah menyebar ke seluruh tubuhku.

“Hoe gaat het met jou..?” bagaimana keadaanmu?”

Hatta memaksakan diri tersenyum, tangannya masih memegang tanganku. Aku kemudian terisak seperti anak kecil. Entahlah apa yang aku tangisi. Mungkin karena aku seperti menemukan tempat muara yang dari dahulu aku tunggu-tunggu. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Air matanya juga tumpah. Hatta ikut menangis. Kedua teman lama yang sempat terpisah mempererat pegangan tangan seolah tak ingin berpisah kembali. Hatta tahu waktu bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak lama lagi. Dan Hatta tahu betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang diberikan oleh pemerintah yang dialami sahabatnya ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak mempunyai hati nurani sama sekali.

“No…” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dia tak bisa mengucapkan kata-kata lagi. Aku tahu dia sedih melihatku seperti ini. Dan aku sangat senang akhirnya ada yang memperhatikanku. Walaupun hanya satu orang. Seorang Hatta. Ini sangat berarti bagiku.

Tak lama kemudian aku dan Hatta meneteskan mata air ke bantal.  Perlahan Hatta memijiti tubuhku. Indah rasanya…setelah sekian lama tak ada satupun yang memperhatikanku seperti ini di tempat pengasingan ini selama lima tahun. Tak ada kata-kata lebih lanjut. Aku dan Hatta terlalu sibuk menyelami masa-masa bahagia ketika memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, mengenang suka duka ketika berjuang bersama mebangun altar pemerintahan bangsa yang besar ini.

Hari itu , 20 Juni 1970, sore hari, menyisakan kenangan yang tidak mudah lepas dari memori. Dua orang manusia yang separuh hidupnya diabdikan untuk kepentingan bangsa, bertemu dengan suasana duka yang sebelumnya tiada pernah terbayangkan. Sukarno tergeletak lemah tak berdaya. Bahkan daya ingatnyapun menurun drastis.

Sukarno tak bisa berkata-kata. Ia diam dalam sakit yang teramat sangat. Pengembaraan jiwanya seolah telah final, tumpah ruah diatas pembaringan terakhir. Sukarno hanya diam, menunggu datangnya masa, dimana ia dapat menggapai swarga loka, terbang bersama cita-cita yang kandas di tangan bangsanya sendiri. Ia diam dalam segala kepasrahan, menunggu jawaban kapan jiwanya melayang pada Sang Pemilik.

Terinspirasi dari Tragedi Sukarno

22 Juni 2009 pukul 02.00 Wib pagi hari

Matahari itu berpindah

ya, matahari itu perlahan berpindah. bukan untuk menjauhiku, tetapi ia terpelanting kebagian sisi lain yang lebih baik.

namun, aku ragu dengan tempat itu. karena ia asing bagiku. tetapi belum lagi aku berfikir, hati tetap membenarkan bahwa memang matahri itu harus pergi dan berpindah.

jika ia berpindah tentu aku tak mendapatkan cahaya. sementara aku butuh cahaya. dimana manusia yang senantiasa memberi petuah kepadaku. dimana aku bisa berdiam diri dan tak perlu berpindah tempat. aku rindu, namun ia seperti diam, dan membuat aku semakin terpuruk.

aku masih takut jika aku berpindah tempat duduk. karena berarti semua akan berubah. tapi hati ini seolah ingin teriak bahwa memang jalan itu, bahwa memang rumah itu adalah tempat yang lebih indah. dimana kalian? aku butuh kalian yang mampu membuat tempat dudukku kokoh.

aku ketakutan…

aku sendiri dan berselimut sepi.

dimana sang pujangga yag melantunkan bahasa indah nirwana? dimana sang guru yang menghancurkan kerak-kerak sampah didalam dada.

aku butuh obat penenang sebagaimana Umar bin Khattab mendapatkan penawar dari rasulullah.

dimana kalian…?

aku bingung…

aku terpuruk…

aku tergoda untuk memiliki rumah baru….aku tergoda untuk mndekap matahari baru…

Rabb, bantu aku. Kau yang mengubah setiap sendi-sendi kehidupan. tuntun aku sebagaimana Engkau menuntun Salman Al-farisi menemukan matahari.

aku takut terduduk kaku diantara dua matahari. lalu semua berjalan meninggalkan aku.

Menari dalam Kematian

Perih…

sakit…

luka…

belanga tak bertuan pun pudar…

hidup…

mati…

hidup…

lalu aku pergi

berlari…

teriak…

sepi…

Teriak…

mati…

Aku…

berdenyit…

jantung yang berdetak tak lagi mampu menahan kekuasaan darah yang deras mengalir…

mati..

bung…

ayo…

aku terkungkung dalam sepi jiwa diantara rona wajah yang entah berpendar dimana…?

Logika, fakta, dan Egoisme manusia

kadang manusia hidup itu penuh dengan misteri. dan memang manusia adalah misteri itu sendiri. begitulah aku dipertemukan dengan sang awan…dia merajut kasih dengan bintang namun inti dari kasih itu sendiri telh sirna.

banyak sekarang manusia yang berlogika, namun kepandaiannya telah mengubah air menjadi darah. kebenarannya telah membuat sang ibu menangis darah. aneh…kebenaran semacam apa itu yang sampai kepada menusuk hati yang tentram.

keadaan tenang itu telah berubah menjadi semak yang mengakar dan memuramkan ladang petani yang telah bersimbah peluh menanam pohon untuk anak cucunya kelak. hati manusia yang tak sakit ketika tanaman itu sudah dinodai dengan kegilaan bahwa kau salah telah menanam karet. seharusnya kau menanam benih padi.

ada yang salahkah dengan menanam karet? lalu kenapa tidak kau saja yang menanam padi, sehingga anak cucumu pun merasakan betapa nikmatnya hasil dari apa yang kalian tanam.

Mockingbird telah berkicau bernyanyi tentang keadilan. namun, keadilan itu telah sampai kepada hati yang lekang, hati yang telah terpatri menjadi tak menerima apapun selain dari dirinya dan dari golongannya.

apakah kau tak berterima kasih kepada manusia dimana telah menjadikan api itu menjadi jinak? maka kemanakah nurani yang bicara tentang kasih mengasihi?

ah…aku bingung antara logika, fakta dan egoisme manusia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.