Jangan Menulis Buku…!!!

yup, jangan menulis buku sekali lagi…kenapa? karena menulis buku dapat menyebabkan kamu ngantuk, laper, susah tidur, dikejar-kejar Jin (hehehe…editor maksudnya…piss)…..

saya bilang jangan “menulis buku kawan…” kawanku langsung protes karena dia suka banget nulis. “Lha orang mah nulis buku itu penting…situ ngapain nulis buku?”

Ada banyak kisah tentang penulis-penulis dalam melewati proses menulisnya. Banyak diantaranya akhirnya menyerah dan berhenti menulis.

banyak teman yang bertanya bagaimana sih nulis? kok ya aku tulisannya ga kelar-kelar? padahal sudah berusaha skuat mungkin bagaimana caranya agar buku saya rampung. mangkanya saya bilang ke kawan tersebut “jangan menulis buku kalau kamu hanya memakai waktu sisa untuk menulis buku.”

Menulis itu bukan hanya sekedar waktu siswa, kita harus punya waktu khusus untuk menulis karena dengan waktu khusus itulah menjadikan kualitas tulisan kita lebih manknyus dibandingkan menggunakan waktu sisa. kenapa? karena waktu sisa berarti tenaga dah capek, otak sudah nge hange karena kerjaan selama seharian dan hal-hal lainnya yang menyebabkan tulisan menjadi hambar.

“jangan menulis buku jika tidak punya visi yang jelas.” banyak ketikasaya bertanya ke kawan-kawan yang sedang menulis lalu saya tanya “wah, lagi nulis ya?” Lalu dia jawab “ngga mas, iseng aja.”

Saya pikir menulis bukan hanya sebuah keisengan semata. keisengan menyebabkan apa yang kita tulis menjadi sesuatu yang sekedarnya, tidak mempunyai arah yang jelas “niy buku mau dibawa kemana.” Menulis harus punya visi jelas sehingga menghasilkan sebuah tulisan yang bermanfaat. coba deh bayangkan seandainya JK. Rowling sang maestro penulis buku Harry Potter jika dia menulis hanya karena iseng saja, saya yakin novelnya tidak akan pernah diterbitkan ketika sekali ia kasih ke penerbit dan ditolak mentah-mentah.

penulis-penulis besar tidak menjadikan tulisannya menjadi sebuah keisengan. karena dia tahu dengan tulisan ia bisa merubah keadaan. Baik keadaan finansial maupun keadaan orang yang membaca buku ini. Seandainya Chairil Anwar menulis syair-syairnya dengan penuh keisengan maka saya yakin tulisannya tidak akan semegah namanya hari ini…yakinlah menulis karena iseng menyebabkan tulisan teman-teman hanya sekedar tulisan biasa.

Bagi penulis-penulis besar menulis merupakan proses menarik yang tidak bisa dilepaskan. Ia seperti candu yang kadang jika tidak melakukannya sedikit saja maka akan terasa ada sesuatu yang hilang. Menulis bagi penulis besar adalah berbicara tentang sebuah pikiran yang ingin ia muntahkan lalu ia berikan kepada setiap orang tentang isi otaknya.

jadi, sangat sayang rasanya jika kita hanya menulis di waktu-waktu sisa, atau hanya sekedar iseng-iseng belaka.

 

 

STOP BELAJAR!! Kalau Ingin Pintar

“Pak..tadi bapak bilang bahwa STOP BELAJAR!! jka kamu tidak memahami utnuk apa kamu belajar. lalu bapak juga bilang Impian membuat kita menjadi orang yang mempunyai tujuan dan fokus. nah seandainya saya ingin menjadi dokter, tapi karena kemampuan orang tua saya yang tidak memungkinkan, akhirnya saya harus mengurungkan impian saya. Kuliah saya tidak sejalan dengan impian. bagaimana menurut bapak?”

Pertanyaan ini datang dari seorang mahasiswa yang merupakan salah satu peserta bedah buku STOP BELAJAR!! Kalau Ingin Pintar. kebetulan buku ini adalah buku kedua yang benar-benar saya ambil dari inspirasi perjalanan kehidupan saya di dunia pendidikan. Baiklah kita teruskan. Pada pertama kali saya mencari judul untuk buku ini terus terang cukup sulit. kenapa? Tidak lain karena buku ini adalah hasil kontemplasi saya selama beberapa tahun berada dalam dunia belajar formal.SD, SMP, SMA, dan Kampus.

Setiap saya bertanya kepada peserta seminar, training dan beberapa teman saya, paradigma belajar sudah menyatu dengan belajar di tempat formal.  Sebenarnya tidak salah dengan pendidikan formal. tetapi sangat sempit rasanya ketika belajar selalu diidentikan dengan pendidikan formal. Padahal sejatinya belajar adalah ruang lingkup yang begitu luas, seluas alam semesta yang terus berkembang, atau seluas otak manusia yang tidak pernah terbatas seperti pendidikan formal.

Kalau belajar diidentikan dengan dunia formal lalu bagaimanakah nasib Buya Hamka, Ibnu Sina, Al-Jabar atau orang-0rang yang mengubah sejarah tanpa melalui pendidikan formal? jika kita lihat pada abad ini siapa yang tidak mengenal Mark Zukenberg sang maestro facebook. lalu kita juga tahu Bill Gate. Di dunia bisnis, kita tentu mengenal Bob Sadino, Robert Kiyosaki, Purdy Chandra dan lainnya.  Lalu apakah mereka tidak pantas mendapatkan gelar kehormatan karena mereka mempunyai kekuatan ilmu? padahal mereka tidak lulus kuliah?

Pemikiran yang sempit tentang belajar ini telah mengakar kepada banyak orang. Padahal tentu kita tahu bahwa belajar dapat kita lakukan dimanapun, kapanpun tanpa terbatas kepada pendidikan formal saja. bahkan pada kenyataannya ada jurang pemisah antara belajar di tempat formal dengan belajar di dunia luar. Jurang ini telah menyebabkan hasil yang cukup berbeda dari segi ilmu. Contek mencontek sudah tidak asing lagi di pendidikan formal kita. Bahkan sebagian besar guru-guru pun telah terbiasa dengan hal tersebut. Buktinya mereka mereka memberikan contekan kepada siswanya ketika Ujian Nasional? kenapa terjadi seperti ini? tidak lain karena tujuan yang telah berbeda dari apa yang seharusnya. Inilah jurang pemisah itu. Orang yang belajar di dunia nonformal kebanyakan dari mereka karena kinginannya sendiri untuk belajar. Tidak begitu dengan dunia formal. orang yang belajar disana (pendidikan formal) telah memfokuskan dirinya kepada dunia Prestise. Padahal sejatinya pendidikan formal adalah tempat yang layak untuk menimba ilmu, bukan menimba nilai.

Saya sedang tidak menyalahkan pendidikan formal, tetapi lebih kepada ingin meluruskan bahwa seseorang dapat mewujudkan cita-citanya bukan hanya harus di pendidikan formal saja. pendidikan formal hanyalah salah satu jalan untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. jika, kita tidak dapat masuk ke dunia formal seperti itu, bukan berarti kita berhenti belajar bukan? kita bisa belajar lewat jalan manapun. bisa lewat kursusan, lewat komunitas-komunitas dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan saya, ada ruang dimana saya berhenti belajar untuk menemukan sesuatu dalam diri saya (inilah cikal bakal dari judul buku saya). Hal ini tidak lain agar saya tidak bingung denan proses belajar saya. Setelah saya menemukan potensi saya dan menemukan impian saya dari potensi tersebut, akhirnya yang terjadi adalah sesuatu yang sangat ajaib. Saya begitu semangat belajar. karena saya tahu kemana arah saya kedepan walaupun saat itu apa yang menjadi keinginan saya tidak selaras dengan belajar formal saya. Saya belajar dari luar bagaimana cara menulis, saya belajar dari luar bagaimana saya berwirausaha. Kampus? kampus menjadi ladang relasi untuk mewujudkan apa yang saya inginkan.

Begitulah seharusnya belajar. Ia tidak dimonopoli oleh pendidikan formal semata. Paradigma semacam ini harus dirubah. Namun, sebelum semuanya bisa dirubah secara konsep, alangkah baiknya kita rubah belajar kita dengan mengawali dari menemukan potensi dan impian kita. Selanjutnya fokuslah pada apa yang kita inginkan..jadi, STOP BELAJAR!! Kalau Ingin Pintar.

 

Impian…

Berani bermimpi…

bahasa ini lagi-lagi aku temui di setiap buku2 pengenmbangan diri. emang perlu ya mimpi? pertanyaan ini pula yang pernah aku luncurkan dalam hai pada sebuah seminar motivasi. kenapa mesti? karena manusia tanpa mimpi adalah manusia yang sejatinya tidak hidup. dia seperti mayat hidup yang hidupnya berjalan seperti air.

aku mulai mengerti bahwa mimpi itu sangat penting. namun, untuk berani bermimpi membutuhkan waktu yang tidak sediikit. awalnya aku tertawa ketika ada orang yang menempelkan impian-impiannya di dinding-dinding kamar, di komputer…”ga ada kerjaan ya?” pikirku

tetapi seiring berjalannya waktu ternyata memang hal tersebut sangat penting. apirmasi…wuih apirmasi makhluk apaan pikirku. ternyata apirmasi itu singkatnya adalah menanamkan impian ke otak bawah sadar. karena otak bawah sadar sesungguhnya adalah otak yang paling berperan penting dalam menjalani kehidupan dna mewujudkan impian-impian.

mulailah aku menempelkan impian-impian. aku beranikan untuk membuat buku impian sendiri dan kapan hal tersebut harus terwujud. banyak teman-teman yang tertawa ketika mereka liat kamarku yang penuh dengan tempelan-tempelan impian. Ada gambar kambing, gabar mobil, gambar rumah, gambar cincin nikah gambar lembaga kursusan, menjadi penulis dan beberapa gambar lainnya yang menjadi impian-impianku. aku tekadkan untuk tidak malu walaupun orang-orang tertawa kecut melihat impian-impian yang aku tempel…

waktu terus berjalan. berbulan, tahun…dan yang terjadi adalah apa yang aku tempelkan beberapa sudah terwujud. kini aku sudah menerbitkan buku. beberapa buku malah. Punya rumah, dan beberapa impian lainnya…

subhanallah…

ada kebingungan yang mesti diurai…

Ada sepi yang harus segera disinari dengan matahari hangat…

ada sedih yang harus dibenahi dengan senyuman…

ada gelap yang harus segera di pendar…

 

kadang bertanya kemana lagi aku harus mengurai ranah-ranah gelap?

ingin rasanya terbang dan melepas dan meregang tali-tali pengekang tubuh…

aku ingin lari kemudian berteriak…

 

Aku butuh kau yang lagi-lagi menjadi mata air ketenangan…

aku butuh kau yang lagi-lagi menjadi pembaharu ketika semangat kendur….

 

aku ingin mengendurkan urat-urat syaraf yang sedang menegang….

ah….letih rasanya….

Aku Sadar Tak AKan Pernah Bisa Seperti Lukman

Satu bulan ini ada sesuatu dalam kehidupan saya. sesuatu yang tidak pernah menyangkanya akan pernah terjadi, sesuatu yang membuat bulu kuduk merinding karna kebesaran Allah swt ada dihadapan saya, sesuatu yang menjadikan saya berstatus baru, ayah. indah terdengar dan baru sekarang ini saya tahu rasanya menjadi seorang ayah. seperti mimpi, tetapi hari itu tanggal 17 Januari 2011 saya benar-benar mempunyai seorang anak perempuan yang lucu dan cantik yang bernama Hafshah Aqilah Syahaznani.

Seperti baru bangun, ia menangis untuk pertama kalinya di dunia dengan tangisan yang merdu, lucu dan juga haru. ah….anakku lahir ya Rabb.pertama kali saya mendengarkan tangisannya, seperti tidak percaya bahwa saya telah menjadi seorang ayah. Ketidak percayaan itu kemudian dilarutkan dengan air mata yang menetes haru, kian haru ketika saya melihat istri saya yang tergolek lemah setelah menyelesaikan tugas pertamanya sebagai seorang ibu, melahirkan. Baru kali itu saya merasakan betapa memang perjuangan seorang ibu begitu besar. Saya baru benar-benar sadar bahwa ternyata ibu saya dahulu pun ketika melahirkan saya tidak jauh berbeda seperti istri saya. subhanallah…Betapa saya menyepelekan beliau pada hari-hari sebelum ini….

Setelah selesai dibersihkan, masih dengan rasa haru saya mengadzaninya. Adzan puh hampir-hampir tidak terdengar karena rasa haru yang menyesakkan dada, isak tangis yang menghantam tenggorokan. Ingin rasanya waktu itu saya bilang ” nak, ini bapak nak. bantu bapak supaya bisa mempertanggung jawabkan amanah ini di hadapan Allah nanti.” Ingin rasanya bahasa yang pertama terdengar adalah senyuman dan jawaban “Iya bapak, saya akan bantu bapak untuk mempertanggung jawabkan dihadapan ALlah nanti dengan cara berbakti kepada Allah, Rasul dan bapak serta ibu.” Ingin sekali rasanya saat itu juga saya mendengar kalimat itu dari anak saya.

Masih dengan suara yang serak, saya tak kuat menahan emosi yang berkecamuk. Allahu akbar….Allahu akbar… Asyhaduanlaa ilaaha illallaah …sembari sesenggukan saya letakan bayi itu di dada ibunya yang baru saja berjuang keras, gigih, tanpa mengeluh. subhanallah…

Hari itu hari kebahagiaan sekaligus hari amanah baru buat saya. Layaknya sebuah kertas, apa yang ingin saya tuliskan pada kertas baru yang masih putih, bersih tanpa noda. apakah saya akan mencatat sejarah dari anak perempuan ini dengan sejarah yang gemilang? ataukah saya justru akan menelantarkan anak yang sudah diamanahkan oleh ALlah swt. naudzubillah…

Saya teringat dengan hadits Rasulullah saw yang mengatakan bahwa:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.(HR. Bukhari).

Hadits ini membuat saya berpikir ulang bahwa apapun yang dilakukan oleh anaknya sebenarnya tidak lain adalah hasil dari upaya orang tua mendidik anaknya sendiri. Rasulullah saw sangat faham dengan apa yang dikatakan dalam haditsnya. “orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi, majusi” adalah sebuah bentuk pemberitahuan kepada kita sebagai seorang muslim bahwa membangun sebuah peradaban tidak akan pernah bisa dilakukan langsung pada ranah yang luas. Membangun peradaban tidak akan pernah bisa terjadi hanya karena serumpun dan sebudaya. tetapi membangun peradaban (baca: peradaban islam) hanya akan terjadi ketika kita faham bahwa sebagai orang tua, maka tugas kita adalah mengenalkan islam sebenar-benarnya kepada anak-anak kita, memadupadankan antara ilmu dengan jiwa yang bersih.

Indah sekali Nasihat Lukman kepada anaknya. Ia tidak menyuruh anaknya untuk mengikuti Indonesian Idol, Indonesian Got Talent, Indonesia Mencari Bakat, tidak sama sekali. Lukman juga tidak menyuruh anaknya untuk menjadi orang yang harus kaya, karena kekayaan hanyalah alat untuk memperbaiki diri, ia juga tidak pernah menyuruh anaknya untuk sekolah tinggi-tinggi karena sesungguhnya sekolah tinggi juga merupakan sesuatu dari sebuah akibat. apa itu? mari kita dengar nasihat Lukman:

  1. Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya (Tsaran) dan ia menasehatinya: “Hai anaku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (Qs Lukman (31) : 13)
  2. Hai anaku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau berada di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membawanya) sesengguhnya Allah maha halus lagi maha mengetahui.” (qs Lukman (31) : 16)
  3. Hai anaku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) me-ngerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (Allah).” (Qs Lukman : 17)
  4. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri ( Qs Lukman : 18)
  5. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara ialah suara keledai. (Qs Lukman : 19)

Nasihat yang pertama yang Lukman berikan adalah jangan pernah mempersekutukan Allah swt. kenapa nasihat ini yang pertama? tidak lain karena inilah kunci dari segala macam kebaikan. inilah dasar dari seseorang menjalani kehidupanya. tanpa keimana kepada Allah swt sesungguhnya apapun amalan yang kita lakukan menjadi seperti debu yang diterbangkan oleh angin. Ia ambigu, ia ragu kemudian hilang tanpa bekas.

Nasihat yang kedua Lukman menasihati anaknya agar memperhatikan apa yang ia perbuatnya. Hal ini tentu saja bukan karena tanpa alasan. ketika keimana kita kepada Allah swt telah kukuh, selanjutnya adalah memperhatikan apa yang kita perbuat. seseorang yang sudah beriman kepada Allah swt, ia terikat kepada aturan Allah. Aturan Allah ini yang akan menjadikan manusia menjadi orang yang penuh dengan keimanan dan keindaha. Tidak seperti aturan manusia yang bersifat lemah dan mencapekan, aturan Allah swt justru membuat hati tenang dan nyaman bagi orang yang menjalankannya. Setiap kebaikan akan menjadi kebaikan walopun sedikit. dan setiap keburukan akan mendekatkannya kepada kehancuran walopun sedikit.

Nasihat Lukman, yang selanjutnya adalah mendirikan salat dan memberi kabar kepada manusia lainnya agar melakukan perbuatan-perbuatan baik. Lukman menyuruh anaknya mendirikan salat karena dengan salat itu sesungguhnya akan menjadikan anaknya orang yang sabar dan kuat atas apa yang akan dihadapi, karena nasihat selanjutnya dari Lukman adalah memperingatkan orang lain untuk mengerjakan kebaikan.

Nasihat Lukman selanjutnya adalah jangan pernah sombong dan memalingkan diri dari orang lain. Hal ini tentu saja bukan tidak ada tujuan. Selain Allah swt saja yang berhak sombong, sesungguhnya memalingkan muka dari orang lain akan mengakibatkan perkataan apapun yang akan kita sampaikan kepada orang lain menjadi sia-sia karena tidak akan pernah mendengar. Lukman menginginkan anaknya menjadi anak yang bermanfaat bagi lingkungannya dengan cara jangan pernah memalingkan dari orang lain.

dan nasihat yang terakhir adalah jangan pernah menjadi orang yang berlebihan dalam hidup karena sesungguhnya kehidupan itu tidak bisa sendiri. ia harus bersosialisasi, ia harus menyampaikan kebenaran. ada korelasi antara tidak sombong dengan tidak berlebihan, karena kesombongan biasanya akan menimbulkan berlebihan.

Bbegitulah Lukman menasihati anaknya. Betapa ayah seperti Lukman inilah sesungguhnya yang telah siap menjadi ayah. Ayah idaman bagi anaknya. Lalu saya mengaca kepada diri saya pribadi, betapa jauh saya dengan Lukman…jauh sekali….tapi walopun begitu ada secercah keinginan yang bulat untuk menjadikan anak saya sebagai seorang yang bermanfaat bagi orang lain.

sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi seperti Lukman yang baik, saya hanya bisa berharap ke Allah swt agar dimampukan untuk merawat anak sehingga menjadi anak yang berguna seraya berkata kepada anak saya:

“Nak, bantu bapak menjadikan kamu orang yang penuh dengan ruh keislaman.” amin……^^

Berimajinasi

“Rintik-rintik hujan ini tak akan mampu mengalahkan impianku” mungkin itulah yang dikatakan oleh mang becak yang baru saja melintas dihadapanku. Lalu saya menerawang masuk ke celah labirin otak yang semrawut. bertemu dengan anaknya, istri yang tengah harap-harap cemas karena suaminya yang tengah mencari nafkah untuk membiayai kehidupan sehari-harinya yang tak jua kunjung tiba, terlebih hari ini hujan besar. Seketika itu juga ucapan syukur menghiasi hati karena ternyata saya masih diberikan kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan keadaan mang becak itu. aliran-aliran di batok kepala saya mengalir begitu saja. ini sepertinya menjadi kebiasaan baru. kebiasaan masuk dan berimajinasi seandainya saya menjadi orang yang saya lihat, apa yang akan saya lakukan. Berimajinasi dan memerankan orang tersebut.

Mungkin terlalu na’if, tapi bagi saya ternyata kebiasaan baru itu cukup mengasyikan. Ketika saya berada di Mall, yang terpikir pertama kali adalah apa sebenarnya yang ada di kepala mereka. Tujuan apa sebenarnya yang ada dibenak mereka. Berimaji seperti ini telak telah menjadikan saya orang yang pada akhirnya belajar untuk menjadi bijaksana, berimajinasi seperti itu telah memanusiakan hati saya. Dengan berimajinasi saya belajar untuk bersyukur.alhamdulillah…

Entah, ini salah atau benar, tapi yang jelas hari ini saya terduduk diparkir SMA4 Cirebon. hujanlah yang membuat saya terduduk dan mulai berimajinasi. pakaian yang lusuh, celana jeans tanggung dengan bekas potongan diujungnya, dan topi yang menghias di kepala untuk menahan panas Cirebon yang kadang menyengat, namun kini topi itu berperan sebagai penahan air hujan seperti sekarang ini. setiap hentakkan kakinya pada pedal yang terlihat berat dan keras yang menimbulkan otot-otot yang kuat.

Ia datang dengan hujan yang membuatnya basah kuyup membawa seorang guru yang akan masuk ke sekolah. Kaki-kaki itu seperti berkata di imajinasiku “Alhamdulillah, nak, hari ini bapak bawa uang untuk makan kita. kita bisa makan lebih enak (setidaknya untuk hari ini)” kelebatan-kelabatan kalimat dan imajinasi itulah yang datang ke batok kepala. Aku sedang memarankan mang becak itu.

Kadang saya berpikir seperti dalang yang sedang memainkan lakon. Tapi bagiku ini harus ditangkap, ini inspirasi untuk memanusiakan saya, lalu berusaha bersyukur dan mengucap alhamdulillah….ternyata keadaanku masih lebih baik, nuraniku masih hidup walaupun harus tertatih-tatih…alhamdulillah..

 

dalam Basah Kuyup

Gambar:  ww.devieriana.com

Apa Kabar Pagi…

lama aku sudah menghilang…terbang, mengepakkan sayap untuk menjemput imajinasi-imajinasi yang menuntuku menjadi kenyataan…

lama, lama aku menghilang dari gegap gempita langkah-langkah manusia…hibernasi dulu, jauh dulu..semoga menjadi rindu setelah tidak bertemu.

hari ini aku mulai kembali melangkah menghadapi tantangan-tantangan yang kemudian menjadi harapan…

tantangan menghadapi malam, tantangan menyambut pagi dan tantangan melahap awan hitam yang kian berani….

aku rindu senyaman alam yang hangat di padang ilalang, aku datang, aku menyambut….aku peluk…

Gambar: jedahsejenak.blogspot.com/

Berlomba Menjadi Berhala

Ada sebuah tulisan dari seorang teman yang sangat membuat hati saya terdiam lalu merenung. betapa tidak, ternyata acara-acara semacam Indonesia mencari bakat, Indonesia’s got talent dan acara sejenisnya ternyata secara tidak sadar telah menjadikan kita seseorang yang mengagung-agungkan manusia. innlaillah….

ini dia artikelnya….

“Aneh! Menyaksikan begitu banyak kontes idola-idolaan hari-hari ini. Semua berlomba untuk menjadi idola yang digemari dipuja dan dikenal dimana-mana. Fenomena ganjil yang mengemuka di depan kita semua. Mengapa begitu haus manusia menjadi idola??Bukankah sama artinya mereka sedang berlomba-lomba menjadi atau menandingi Tuhan? “Lho Kok sampe kesitu mas?! Serem amat!”Jangan esmosi gitu dong.

Sini deh, sampeyan dengerin baik-baik penjelasan saya. Mari kita dudukkan persoalannya. Idola adalah kata serapan Bahasa Inggris; idol. Lihatlah webster dictionary menjelaskan arti kata ini… An image of a divinity; a representation or symbol of a deity or any other being or thing, made or used as an object of worship; a similitude of a false god.[1913 Webster]Jadi segala sesuatu yang dijadikan objek sesembahan yang mencoba menyamai Tuhan disebut idol. Maka terjemahan paling pas dari kata idol ini dalam Bahasa Indonesia adalah berhala.

Dulu di masa jahiliah sebelum diutusnya para nabi, idola itu berwujud  replika bodi orang-orang alim terdahulu. Hingga ke zaman rasul terakhir  Latta, Uzza dan Manat dan Hubal menjadi idola. Yang ke semuanya menjadi tandingan Allah SWT, disembah dan dimintai pertolongan kala mereka gundah. Maka menjadi tugas berat para nabi dan rasul serta yang mengikuti jejak mereka untuk mengembalikan penyembahan itu pada yang sepatutnya. Serta mengarahkan seluruh laku dan tindakan sesuai keinginan Sang Pencipta yang hanya Dialah yang pantas dijadikan sembahan.

Sering digambarkan di buku-buku sejarah, para penganut totemisme bersimpuh di hadapan berhala, sambil meminta dan memohon kepadanya. Maka coba kita perhatikan baik-baik sikap dan atitude para pemuja idola di jaman modern, idola yang terdiri dari para artis. Mereka menjerit-jerit dan memohon serta menyanyi dan menangis bersama sang artis. Sehingga jika ada pesan-pesan amoral yang dibawakan oleh sang idola mereka akan langsung mengamininya. Hari ini idola dan mengidolakan menjadi gaya hidup yang diidap sebagian besar manusia. Sehingga tidaklah mengherankan, ketika ada artis yang berzina dan diketahui seluruh khalayak, penggemarnya akan bergeming tak peduli seolah matanya tertutup dari menganggap itu sebuah kesalahan.

Mereka malah memberikan dukungan sepenuh jiwa dan raga.  Mereka juga akan sengit menyerang orang-orang yang memprotes atas dasar moral atau keimanan. Tabiat dari pemujaan terhadap berhala adalah tabiat yang takkan dipahami kecuali oleh penganut yang sejalan. Dan puncak dari pengabdian pada sesembahan adalah menyerahkan jiwa dan raga pada sang berhala.

Lihatlah dalam At Taubah ayat 31 :اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أرباب من دون الله والمسيح ابن مريم…”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah dan juga menjadikan Al masih bin Maryam sebagai sebagai rabb”proteslah Adi bin Hatim yang dulunya nasrani kepada Rasulullah. Dia berkata, “Ya Rasulullah mereka tidak menyembahnya”"Memang benar. Tetapi bukankah mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram untuk para pengikutnya, kemudian para pengikutnya menguikuti mereka?! Itulah bentuk penyembahan mereka kepada orang alim mereka..

Sedangkan orang yang alim sekalipun bisa saja menjelma jadi berhala. Manakala dia tidak berpijak pada pemahaman yang benar tentang ibadah, atau membuat-buat sendiri ibadah dan diikuti secara membabi buta oleh para pengikutnya. Apatah lagi para idola busuk akhir zaman yang menari-nari dan bergantian mempermainkan hati manusia yang lemah. Wah mas, berarti saya nampaknya mesti syahadat ulang?”Ya,sampeyan kan tiap sholat udah baca syahadat. Tinggal realisasinya aja. Tidak ada ilah (sesuatu yang ditaati) selain Allah. Pelajari semua perintahNya dan laksanakan. Gitu aja koq repot..

by Fajri Hidayat

bisnis internet, trend bisnis masa kini…

internet adalah sebuah anugrah yang sangat patut kita banggakan. hal inidikarenakan selain kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan juga biayayang lebih mrah. contoh yang paling mudah adalah kalau bisnis offline kita harus pergi dengan berkendaraan, maka di bisnis internet kita cukup duduk manis dan jalankan bisnisnya.

apa saja sih yang bisa di lakukan buat bisnis di internet? jawabannya
adalah apa saja bisa. asalkan kita tahu caranya
amun permasalahannya masih banyak orang yang belum tahu apa sih bisnisinternet? program apa saja yang ada? apa yang bisa kita jual?

saya coba untuk sedikit menjelaskan.

a. toko online

simpel nya sama seperti ketika kita ingin membuka sebuah toko di depan
rumah kita, kita butuh tempat, butuh barang yang akan kita jual, dan
butuh nama apa yang cocok untuk bisnis kita. di internet pun begitu.

1. kita butuh domain (alamat toko/tempat tokonya).contoh:
inilah alamat jalan
dimana toko kita berada (alamat di dunia maya ini tentunya).

2. hosting (kalau di toko berarti tokonya/ruangannya). untuk lebih
jelasnya anda bisa mencari lebih dalam lagi bagaimana membuat website.. affiliate program

jika anda merasa masih susah untuk mengelola web, maka ada cara yang lebih mudah untuk berbisnis di internet. dan cara ini tidak kalah
hebatnya dengan toko online.program affiliate ini menurut joko susilo (master bisnis internet) masihmenjadi primadona bagi pebisnis di internet. hal ini kata joko adalah karena makin banyaknya pengguna internet baru yang usianya 15-30 tahun.

terus bagaimana sih caranya ? caranya adalah kitabergabung menjadi member dari sebuah perusahaan yang menjual produk,
lalu kita menjadi salah satu dari mereka untuk memasarkan produknya.
keuntungan yang kita peroleh biasanya 50%:50%.masih menurut Joko ” Takheran, karena affiliate program telah teruji dan terbukti mampu
mendatangkan uang dalam waktu (relatif) lebih cepat. Dibanding dengan sumber penghasilan dari internet lain, affiliate program masih yang paling menjanjikan.”

masih banyak yang perlu disampaikan dari bisnis internet ini. tapi itu saja dulu kali ya. nanti disambung lagi. yang jelas, internet memangkas biaya yang sangat besar jika dibandingkan dengan bisnis offline. tak perlu biaya perjalanan, bensin, nyewa tempat yang mahal, bahkan modalnya punsangat kecil.

salam dari saya,

Tendi

Berbuka puasa dengan Bidadari

Hisyam bin Yahya al-Kinaniy berkata, “Kami berperang melawan bangsa Romawi pada tahun 38 H yang dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Dalam pertempuran itu ada di antara kami seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Harits yang terkenal banyak beribadah, berpuasa di siang hari, dan shalat di malam hari.

Saya melihat orang itu adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik siang maupun malam hari. Jika dia tidak sedang melakukan shalat atau ketika kami berjalan-jalan bersama, saya lihat dia tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam ketika kami melakukan pergantian jaga (saat mengepung benteng Romawi), sungguh saat itu kami dibuat bingung olehnya. Saat itu saya katakan kepadanya, ‘Tidurlah sebentar karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada musuh. Jika terjadi sesuatu agar nantinya kamu dalam keadaan siaga.’

Lalu dia tidur di sebelah tenda sedangkan saya berdiri di tempatku berjaga. Di saat itu saya mendengar Said berbicara dan tertawa, lalu mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu kemudian mengembalikan tangannya sambil tertawa. Kemudian ia berkata, ‘Semalam.’ Setelah berkata seperti itu tiba-tiba ia melompat dari tidurnya dan terbangun  dan bergegaslah dia bertahlil, bertakbir, dan bertahmid.

Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Bagus sekali, wahai Abul Walid (panggilan Sa’id), sungguh saya telah melihat keanehan pada malam ini. Ceritakanlah apa yang kau lihat dalam tidurmu.’

Dia berkata, ‘Aku melihat ada dua orang yang belum pernah aku lihat kesempurnaan sebelumnya pada selain diri mereka berdua. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Sa’id, berbahagialah, sesungguhnya Allah swt. telah mengampuni dosa-dosamu, memberkati usahamu, menerima amalmu, dan mengabulkan doamu. Pergilah bersama kami agar kami menunjukkan kepadamu kenikmatan-kenikmatan apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.’

Tak henti-hentinya Sa’id menceritakan apa-apa yang dilihatnya, mulai dari istana-istana, para bidadari, hingga tempat tidur yang di atasnya ada seorang bidadari yang tubuhnya bagaikan mutiara yang tersimpan di dalamnya. Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah lama kami menunggu kehadiranmu.” Lalu aku berkata kepadanya, “Di mana aku?” Dia menjawab, “Di surga Ma’wa.” Aku bertanya lagi, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah istrimu untuk selamanya.”

Sa’id melanjutkan ceritanya. “Kemudian aku ulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Akan tetapi dia menolak dengan lembut sambil berkata, ‘Untuk saat ini jangan dulu, karena engkau akan kembali ke dunia.’ Aku berkata kepadanya, “Aku tidak mau kembali.” Lalu dia berkata, “Hal itu adalah keharusan, kamu akan tinggal di sana selama tiga hari, lalu kamu akan berbuka puasa bersama kami pada malam ketiga, insya Allah.”

Lalu aku berkata, “Semalam, semalam.” Dia menjawab, “Hal itu adalah sebuah kepastian.” Kemudian aku bangkit dari hadapannya, dan aku melompat karena dia berdiri, dan saya terbangun.

Hisyam berkata, “Bersyukurlah kepada Allah, wahai saudaraku, karena Dia telah memperlihatkan pahala dari amalmu.” Lalu dia berkata, “Apakah ada orang lain yang bermimpi seperti mimpiku itu?” Saya menjawab, “Tidak ada.” Dia berakta, “Dengan nama Allah, aku meminta kepadamu untuk merahasiakan hal ini selama aku masih hidup.” Saya katakan kepadanya, “Baiklah.”

Lalu Sa’id keluar di siang hari untuk berperang sambil berpuasa, dan di malam hari ia melakukan shalat malam sambil menangis. Sampai tiba saatnya, dan sampailah malam ketiga. Dia masih saja berperang melawan musuh, dia membabat musuh-musuhnya tanpa sekalipun terluka. Sedangkan saya mengawasinya dari kejauhan karena saya tidak mampu mendekatinya. Sampai pada saat matahari menjelang terbenam, seorang lelaki melemparkan panahnya dari atas benteng dan tepat mengenai tenggorokannya. Kemudian dia jatuh tersungkur, lalu dengan segera aku mendekati dia dan berkata kepadanya, “Selamat atas buka malammu, seandainya aku bisa bersamamu, seandainya….”

Lalu ia menggigit bibir bawahnya sambil memberi isyarat kepadaku dengan tersenyum. Seolah-olah dia berharap ‘Rahasiakanlah ceritaku itu hingga aku meninggal’. Kemudian dari bibirnya keluar kata-kata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kami.” Maka demi Allah, dia tidak berucap kata-kata selain itu sampai dia meninggal.

Kemudian saya berteriak dengan suaraku yang paling keras, “Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian semua melakukan amalan untuk hal seperti ini,” dan aku ceritakan tentang kejadian tersebut. Dan orang-orang membicarakan tentang kisah itu dan mereka satu sama lain saling memberikan teguran dan nasihat. Lalu pada pagi harinya mereka bergegas menuju benteng dengan niat yang tulus dan dengan hati yang penuh kerinduan kepada Allah swt. Dan sebelum berlalunya waktu Dhuha benteng sudah bisa dikuasai berkat seorang lelaki shaleh itu, yaitu Sa’id bin Harits. Allahu a’lam

sumber: dakwatuna.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.